Jawa Tengah

Tolak kenaikan BBM, ratusan pengunjuk rasa konvoi

RADARSMARANG.ID, semarang – Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas kembali melakukan aksi menentang kenaikan konsumsi minyak pemanas (BBM). Pidato tersebut juga diwarnai dengan berbagai lagu.

Para pengunjuk rasa juga dalam konvoi dari titik berkumpul masing-masing. Mulai dari depan Kantor Pos Pasar Johar, Halaman Taman Wisata Wonderia, Stadion Undip, Simpang 7 Unnes dan berbagai kawasan lainnya. Dari Wonderia Park, Anda juga bisa berjalan ke Jalan Pahlawan sambil menyanyikan lagu buruh tani.

Dengan menggunakan mantel almamater kampus dan bendera komunitasnya masing-masing. Mereka juga membawa spanduk-spanduk yang bertuliskan keprihatinan mereka, seperti pertalite yang meledak, teriakan para pensiunan, tidak mengenyangkan perut karena mahalnya harga BBM, dan sebagainya.

pemantauan Jawa Pos Radar Semarang Massa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Menggugat (Gram) Jawa Tengah memenuhi halaman depan Kantor Gubernur di Jalan Makam Pahlawan mulai pukul 13.20. Tidak hanya mahasiswa dari berbagai komunitas, seperti HMI, IMM, GMKI dan lain-lain. Namun para buruh juga datang langsung untuk mendukung aksi menentang kenaikan harga BBM.

Aksi ricuh, ditandai dengan pelemparan botol ke arah polisi. Selain itu, massa menuntut masuk ke kantor gubernur dan berusaha merobohkan pintu gerbang. Tapi itu tidak berhasil. Massa meninggalkan Jalan Pahlawan dan membubarkan aksi setelah terjadi kesalahpahaman antarkelompok.

Kapolres Semarang, AKBP Albertus Recky Robertho, berulang kali mengimbau para mahasiswa untuk melakukan aksi unjuk rasa dengan damai. “Siswa bisa saling berbagi sikap, tapi tetap rapi, jangan membuang apa pun. Yang Anda lempar adalah teman Anda sendiri,” serunya kepada pengunjuk rasa selama kekacauan.

Tak henti-hentinya diingatkan, massa terus melempari botol air minum bekas, plastik dan sebagainya. Saat situasi tidak kondusif, massa salah satu perguruan tinggi negeri itu meninggalkan aksi. Diikuti oleh kerumunan lain.

Koordinator aksi Unnes Arif Afrullah mengatakan, pihaknya mengajukan empat tuntutan. “Selain kenaikan harga BBM, kami juga menuntut revisi RKUHP, penyelesaian kerajaan di lingkungan kepolisian dan tentang hak asasi manusia yang belum terselesaikan,” katanya usai demonstrasi.

Menurut dia, rencana semula bukan lagi menggelar audiensi atau rapat dengan DPR, tapi menyegel gedung DPR dengan rantai dan atribut yang sudah disiapkan. Namun sebelum klimaks, terjadi gesekan antar kelompok yang berujung pada situasi yang kurang kondusif.

“Atribut sudah kami siapkan, tapi petugas dilarang masuk. Kami diizinkan untuk membiarkan 30 orang tetapi mereka tidak representatif. Kami ingin semua orang di sana. Sebenarnya ada kesalahpahaman antara kolaborator hingga klimaks,” akunya.

Sementara itu, 1200 karyawan dilibatkan mengamankan aksi unjuk rasa. Mereka dari Polrestabes Semarang, Polda Jateng dan TNI. Kepala Polrestabes Semarang Kombes Pol. Irwan Anwar mengatakan sekitar 1.100 mahasiswa turun ke jalan. “Kami berkomunikasi dengan mahasiswa mulai dari titik berkumpul dan titik demonstrasi di depan kantor gubernur Jawa Tengah,” katanya. (hood/mha/ida)

Source: radarsemarang.jawapos.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button