Lab Artefak di SDN Alun-Alun Contong menjadi wisata edukasi sejarah
JawaPos.com- Beberapa benda bersejarah berada di SDN Alun-Alun Contong 1, Bubutan, Surabaya. Artefak tersimpan rapi di salah satu ruang kelas sekolah. Beberapa benda tersebut adalah peninggalan Raden Soekemi Sosrodihardjo yang tak lain adalah ayah kandung Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno.
Benda-benda bersejarah tersebut dimanfaatkan sekolah sebagai wisata edukasi sejarah. Begitu juga dengan Gedung SDN Alun-Alun Contong yang berdiri sejak abad ke-19. Raden Soekemi telah mengajar sejak tahun 1898.
Sebelum sekolah tersebut bernama SDN Alun-Alun Contong 1, nama sekolah tersebut beberapa kali mengalami perubahan. Berawal dari sekolah negeri di Soeloeng. Pada tahun 1916 namanya menjadi Hollandsch Inlandsche School (HIS) Soeloeng.
Kemudian, pada masa penjajahan Jepang, pada tahun 1942, namanya berubah lagi. Yakni Sekolah Dasar (SR) Soeloeng. Setelah kemerdekaan, sekolah tersebut menjadi SD Soeloeng pada tahun 1980-an. Dan pada tahun 1998 nama sekolah tersebut berubah menjadi SDN Alun-Alun Contong 1. Sesuai dengan nama Kelurahan Alun-Alun Contong.
Wali kelas kelas IV SDN Alun-Alun Contong 1 Dian Nur Aini mengatakan, peninggalan tersebut dikumpulkan oleh Raden Soekemi dan digunakan sebagai laboratorium artefak. Ini berisi beberapa benda bersejarah. Misalnya plakat, piala, meja dan kursi belajar, lemari dan beberapa buku tua dan ijazah. Usianya sudah lebih dari satu abad.
Laboratorium artefak diresmikan pada tahun 2021. Ruang tersebut digunakan sebagai tempat kursus sejarah muatan lokal. Berisi tentang kisah Raden Soekemi yang mengajar di tempat ini. Pelajaran berlangsung seminggu sekali.
Ada banyak pendukung pariwisata pendidikan. Adanya koleksi sejarah ini membangkitkan minat siswa untuk mempelajarinya. Karena mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melihat peninggalan sejarah secara langsung.
“Selain siswa di sini (SDN Alun-Alun Contong 1), orang luar juga boleh datang,” kata Dian kemarin (18 September).
Untuk melengkapi informasi, pengumpulan arsip dilanjutkan. Selain sekolah, aktivis sejarah juga terlibat dalam proses pengumpulan arsip. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya untuk pengembangan laboratorium juga dilakukan. Misalnya, pembuatan modul pembelajaran khusus tentang sejarah dan warisan budaya.
Pemkot Soerabaia Begandring Nanang Purwono mengatakan, pihaknya juga turut andil dalam pengembangan wisata edukasi sejarah di SDN Alun-Alun Contong 1. Selain untuk kebutuhan pendidikan, kawasan tersebut dijadikan sebagai objek wisata. Termasuk dalam rangkaian kisah hidup Soekarno.
Source: www.jawapos.com