6 kampung tematik di kota Malang
Kampung tematik pada hakekatnya merupakan upaya pembangunan dengan menonjolkan ciri khas dan keunikan suatu daerah tertentu. Keutamaan desa bertema ini dapat memberikan nilai tambah bagi daerah tertentu, khususnya ekonomi. Kota Malang konon memiliki segudang desa bertema yang unik dan memiliki daya tarik tersendiri.
Cukup banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengunjungi desa bertema ini. Sebagian besar desa ini menerima wisata kelompok pendidikan yang menjadikan tujuan rekreasi yang bermanfaat bagi anak-anak sekolah, dari SD hingga SMA bahkan perguruan tinggi. Berikut 6 desa bertema di Malang yang bisa Anda kunjungi.
1. Desa Tembikar Terjamin
Anak-anak asyik melukis pot tanah liat sendiri (instagram.com/kimgerabah_penanggungan)
Desa yang terletak di Kecamatan Klojen ini sering menjadi tempat belajar dan rekreasi bagi anak-anak sekolah, mulai dari SD hingga SMA. Di sini siswa dapat belajar membuat gerabah untuk menghias atau melukis sendiri gerabah. Hal ini tentu saja menjadi perhatian khusus bagi anak-anak yang senang bermain dengan warna.
Eduwisata seperti inilah yang sebenarnya menjadi tujuan desa ini, yang bertujuan untuk memberikan edukasi dan sosialisasi agar industri gerabah yang sudah puluhan tahun eksis ini tetap lestari. Selain itu, ada juga festival sesekali, termasuk Great Clay Festival.
Baca juga: 5 Tempat Wisata di Kampung Budaya Polowijen Malang
2. Desa Budaya Poloviye
Tarian tradisional bersama tamu undangan di Biyen Age Polowijen Festival (instagram.com/kampung Budayapolowijen)
Konon desa di Kabupaten Blimbing ini adalah tempat asal Ken Dedes. Di sini juga terdapat Air Mancur Windu yang merupakan peninggalan Ken Dedes. Kampung ini didirikan atas prakarsa warga sekitar yang secara khusus ingin melestarikan budaya lokal dan meningkatkan ekonomi masyarakat.
Di desa ini pengunjung bisa berlatih tari topeng, membuat topeng, bahkan membatik. Berbagai festival budaya dan kuliner juga kerap digelar di desa ini pada waktu-waktu tertentu.
3. Desa Wisata Cagar Budaya Kajoetangan
Kunjungan Bank Dunia ke Kayutangan Heritage pada Agustus 2022 (instagram.com/kampoengkajoetangan)
Lokasi kampung Kajoetangan cukup mudah karena dapat dicapai melalui koridor di Jalan Arif Rahman Hakim atau melalui Jalan Basuki Rahmat. Memasuki kawasan ini Anda akan disuguhi bangunan hunian bergaya kolonial kuno. Meski dulunya merupakan perkampungan kumuh, namun masyarakat setempat berhasil mengubahnya menjadi potensi wisata yang menjanjikan.
Banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi, mulai dari rumah-rumah tua, aksesoris jadul yang dipajang di sepanjang koridor seperti sepeda dan motor, lukisan 3D dan masih banyak lagi. Anda juga bisa mencicipi kuliner yang tersedia disana sambil meresapi suasana tempo dulu.
4. Desa 3G, Glintung Go Green dan Jalan Air
Beberapa siswa belajar bercocok tanam hidroponik (instagram.com/glitunggogreenmalang)
Desa ini cukup menonjol dibandingkan dengan desa lainnya. Ini karena kerja keras dan fokus warga diterapkan secara disiplin dalam kegiatan penghijauan, termasuk pertanian perkotaan, konservasi air, dan pengelolaan limbah.
Maka tak heran jika desa yang terletak di Desa Purwantoro ini mendapatkan penghargaan Kalpataru pada tahun 2018 lalu. Selain itu, banyak instansi pemerintah dan mahasiswa yang berkunjung ke desa ini untuk belajar dan melakukan studi banding mulai dari biopori, sumur injeksi, bank sampah hingga power house.
5. Desa Tempe Sanan
Kunjungan Sandiaga Uno di Kampung Tempe Sanan (instagram.com/kampungsanan)
Desa ini merupakan penghasil oleh-oleh jajanan khas Malang yaitu keripik tempe. Awalnya desa ini merupakan sentra pengrajin tempe dan tahu karena lebih dari 500 pengrajin terkonsentrasi di sini. Semua perajin ini kemudian bergabung dengan Paguyuban dan Pusat Keripik Tempe Sanan dan mengembangkan berbagai inovasi baru.
Mulai dari keripik tempe aneka rasa maupun olahan turunan kedelai seperti burger tempe, mendol tempe, stik bahkan pembuatannya Nata de kedelai. Selain itu, desa ini juga menerima wisatawan yang ingin ikut berwisata melihat berbagai cara pengolahan kedelai.
6. Kampung Keramik Dinoyo
Anak-anak belajar membuat tembikar sendiri. (malangkota.go.id)
Sejak diresmikan oleh Mohammad Hatta atau Bung Hatta pada tahun 1957, kawasan Dinoyo semakin dikenal sebagai pusat industri keramik. Tepatnya berada di Kecamatan Lowokwaru, berbagai jenis bentuk dan model keramik biasa dipesan sebagai kenang-kenangan atau souvenir pernikahan.
Desa ini, setelah mengalami pasang surut, beradaptasi dan menawarkan pengunjung untuk membuat gerabah sendiri. Tentu saja hal ini cukup menarik perhatian, mulai dari anak-anak hingga pelajar.
Masih banyak lagi kampung bertema di Kota Malang seperti Kampung Warna-Warni Jodipan dan Kampung Tridi yang mungkin sudah pernah Anda kunjungi. Pemanfaatan kawasan pemukiman yang sempit sebagai tujuan wisata yang potensial bisa menjadi percontohan desa-desa di luar sana.
Baca Juga : 5 Rekomendasi Bakso Malang Paling Enak di Malang
Komunitas IDN Times adalah media yang menawarkan platform untuk menulis. Semua karya tulis sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Source: news.google.com