Jawa Timur

Desa Ngadas: Desa wisata yang sarat akan budaya

Oleh Silvi Asna Prestianawati, SE, ME

Indonesia, dengan geografi dan demografinya yang unik, memiliki potensi luar biasa di sektor pariwisata. Keunikan geografis Indonesia menciptakan wisata alam yang sangat diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, serta komposisi demografis di Indonesia yang sangat beragam membuat pariwisata Indonesia sarat dengan budaya dan seni yang tidak dimiliki negara lain.

Begitu pula dengan Desa Ngadas sebagai desa terdekat dengan Gunung Bromo yang telah ditetapkan sebagai Taman Nasional Indonesia memiliki potensi wisata yang luar biasa.

Letak geografis yang berada di puncak Kabupaten Malang yaitu Kecamatan Poncokusumo ini tidak hanya memiliki pemandangan yang indah, suhu yang sejuk, udara yang bersih, tetapi juga memiliki budaya dan tradisi yang kental.

Berikut dokumentasi penulis bersama masyarakat Desa Ngadas.
Cuaca dingin mempengaruhi pakaian sehari-hari masyarakat Tengger, termasuk warga desa Ngadas. Untuk busana pria umumnya memakai kain sarung yang dililitkan dan ditutup dengan sarung yang menutupi badan hingga kepala (sarung kemulan) yang menutupi pakaian luar seperti kebanyakan orang (baju dan celana). Para wanita biasanya memakai selembar kain untuk menutupi bagian depan pakaian luarnya (mirip dengan celemek tetapi lebih lebar).

Pada umumnya celemek ini bermotif floral dan dikenakan oleh wanita saat keluar rumah. “Apron” biasanya tidak dipakai oleh pria dan wanita di dalam ruangan. Para wanita juga memakai topi jenis “topi gunung” yang biasa dipakai pecinta alam. Wanita paruh baya hingga lanjut usia biasanya mengenakan pakaian khasnya berupa pakaian biasa dan dilengkapi dengan selendang kain mirip gendongan bayi, yang digunakan untuk membawa sesuatu (biasanya koper, kayu, dll).

Baca Juga: Berita Foto: Menyaksikan Tradisi Ojung, Puncak Yadnya Karo Suku Tengger di Ngadas Malang

Tentu saja, pakaian yang dikenakan warga Desa Ngadas juga menunjukkan betapa kuatnya budaya dan tradisi yang masih mereka pegang. Dengan demikian, Desa Ngadas tidak hanya memiliki potensi wisata alam, tetapi juga wisata budaya. Selain itu penulis juga mengamati kegiatan sehari-hari anak-anak di desa Ngadas yang penulis kunjungi pada hari minggu (libur sekolah), dan menemukan bahwa anak-anak di desa Ngadas tidak menghabiskan liburannya dengan gadget atau menonton TV, melainkan bermain bersama. permainan yang merupakan batangan emas tradisional. Bantengan merupakan seni pertunjukan dalam budaya Jawa yang memadukan unsur sendratari, kanuragan, musik dan mantra-mantra yang sangat kaya akan nuansa magis.

Apa yang dilakukan anak-anak Desa Ngadas untuk mengisi waktu luangnya menunjukkan bahwa budaya dan seni Desa Ngadas telah terinternalisasi dengan baik di generasi Desa Ngadas. Ini merupakan aset intangible yang besar yang dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Desa Ngadas dan Kabupaten Malang dalam proses Promosi Wisata Desa Ngadas.

Tidak dapat disangkal bahwa promosi pariwisata di seluruh wilayah merupakan hal mendasar, di samping kualitas pariwisata itu sendiri. Selain berpeluang meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, pariwisata juga berpotensi menjadi sumber PAD bagi suatu daerah. Begitu pula dengan Desa Ngadas bahwa promosi wisata merupakan strategi yang dapat mendorong wisatawan untuk berkunjung dan melakukan kegiatan wisata.

Source: news.google.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button