Toko UMKM kuliner di Bandung ini mengasah kreativitas dan terus berkembang - WisataHits
Jawa Barat

Toko UMKM kuliner di Bandung ini mengasah kreativitas dan terus berkembang

Toko UMKM kuliner di Bandung ini mengasah kreativitas dan terus berkembang

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Selalu mengedepankan kreativitas menjadikan Fera Virgiani sebagai pelaku UMKM kuliner di Bandung yang terus eksis mencari cara untuk menghidupi diri. Bisnis Fera berfokus pada penyediaan catering atau nasi kotak. Sebelumnya, ia bekerjasama dengan pihak lain dengan membuka restoran, namun hanya bertahan 4 tahun.

Akhirnya, Fera “beralih” membuka warung yang menawarkan nasi isi MRB dan ikan bandeng dalam kotak. Dengan pengalaman sebelumnya, ia berani bersaing dengan UMKM kuliner lain di Bandung.

Toko UMKM kuliner di Bandung ini mengasah kreativitas dan terus berkembangDijual produk kuliner & nasi box (FOTO: Djarot/TIMES Indonesia)

“Pengalaman membuka restoran di kawasan kanal Cibaduyut, kanal Rancamanyar, ternyata tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya selesaikan dan mengembangkan sendiri layanan penyediaan nasi bungkus secara mandiri sejak tahun 2019 melalui jalur online,” kata Fera Virgiani, Kamis (1/5/2023).

Ia yakin bisa terus berkembang sendiri dengan bisnis pilihannya. UMKM kuliner yang dikelola dibiayai oleh anak-anaknya.

“Semua berjalan sendiri dan dengan bantuan anak saya lulusan DKV SMK Negeri di Bandung, sebagai tim desain dan media sosial,” komentarnya.

Kuliner-Bandeng-konten-MRB-produk-kreatif-Bandung.jpgKuliner Bandeng penuh dengan produk kreatif dari MRB di Bandung. (FOTO: Djarot/TIMES Indonesia)

Fera menjalankan bisnis hanya dengan pengalaman produksi makanan di sebuah restoran. “Hobi saya memasak, itu membuat saya yakin selama saya berusaha, Allah SWT akan memberikan semacam nutrisi,” kata Fera.

Dulu, Fera bersama rekannya membuka restoran di Jalan Terusan Rancamanyar karena jalur itu menjadi jalan akses saat Dayeuhkolot dan Baleendah dilanda banjir.

“Namun ternyata meski menjadi jalur alternatif ke Bandung melalui jalan kanal Rancamanyar, namun peningkatan penjualannya tidak berjalan dengan baik,” kata Fera.

Setelah bertahun-tahun hidup bersama, mereka memutuskan untuk berhenti bersama. Fera akhirnya mencoba membuka usaha sendiri.

“Saya pun memilih untuk menjalankannya sendiri, tidak menyediakan nasi box di rumah dan melalui promosi online di Instagram dan Google Business,” kata Fera.

“Alhamdulillah di trip pertama responnya bagus. Pesanan datang dari Bandung, Jabodetabek, bahkan Jawa Tengah dan Jawa Timur,” jelasnya.

Selain itu, menurut Fera, Bandung memiliki nilai tambah sebagai kota tujuan wisata. Tak jarang juga mengantarkan pesanan ke Lembang, Trans Studio Bandung atau kawasan Setiabudi dan lain-lain.

“Alhamdulillah pesanan selalu lancar, transportasi dipermudah karena ada layanan transportasi online, serta dukungan keluarga yang selalu mendukung,” kata Fera yang juga mendengar informasi penyebaran virus di China yaitu Covid -19.

“Kalau melihat keganasan virusnya, sehingga tidak semua orang bisa berinteraksi dalam jarak dekat, saya kira mungkin kunjungan wisatawan ke Bandung akan terhenti,” kata Fera.

Ia menambahkan, kondisi ini harus diantisipasi. Maka, pada akhir Februari 2019, ia memutuskan untuk membuat produk kuliner berupa ikan bandeng. Bandeng yang tidak berduri sama sekali tetapi masih terbungkus kulit ikan.

“Saat saya melihat bandeng isian dulu, saya tahu ada yang sudah menjualnya di Bandung dan para pelaku UMKM, tapi saat saya membelinya, ada bandeng yang masih berbau tanah atau berasa anyir yang masih meninggalkan bekas,” kata Ferra.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Fera ingin membuat produk ikan bandeng isi yang berbeda, enak rasanya, bisa dimakan oleh anak-anak dan harganya bersaing.

“Alhamdulillah, Maret 2019, saat ada pandemi, PPKM berjalan, saya beralih menjual produk ikan bandeng isi MRB,” komentarnya.

“Masyarakat tahu produk ikan bandeng di daerah Banten itu seperti sate bandeng. Tapi begitu mereka melihat produk saya, mereka mengerti bahwa produk saya berbeda, padahal produknya sama dengan bandeng yang tidak ada tulangnya,” kata Fera.

Selama ini masih ada pembeli produk ikan bandeng isi MRB. Meski ada pembeli mengingat harga minyak kelapa yang meroket. Terutama pelanggan yang sudah berkali-kali membeli produknya.

“Saya berharap masyarakat di luar Bandung dapat menyadari bahwa sebenarnya Bandung juga memiliki penghasil bandeng isi MRB yang tidak kalah enak dan lezat dari Banten. Apakah ada yang selalu mengatakan, apakah bandeng presto? Saya jawab: Tidak, ini bandeng isi tanpa duri, kata Fera, pemilik UMKM kuliner di Bandung.

Apakah Anda memerlukan informasi tentang program ini?

Hubungi Berita Commerce Room TIMES Indonesia di 08-822-2850-8611 KLIK (khusus WA) **) Ikuti berita terbaru KALI Indonesia di Berita Google

Klik tautan ini dan jangan lupa untuk mengikutinya.

Source: news.google.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button